Angkat Potensi Daerah, Kemdikbud Gelar Anjangsana Kebudayaan di 4 Kabupaten

Yogyakarta (25/08/18) – Seni, budaya, dan tradisi merupakan bagian tak terpisahkan yang juga identitas bangsa Indonesia. Dalam rangka mendorong Pemerintah Daerah untuk tetap aktif dalam pelestarian ketiga potensi tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan menggagas sebuah program bertajuk site performance “Anjangsana Kebudayaan” yang digelar mulai tanggal 12-16 Agustus 2018.

“Anjangsana Kebudayaan” ini merupakan sarana untuk mengangkat sekaligus meningkatkan potensi seni, budaya dan tradisi masing-masing daerah. Melibatkan 70 peserta yang terdiri dari praktisi kebudayaan dan seniman luar negeri untuk melakukan kunjungan di empat Kabupaten, dengan harapan terjadi interaksi dan apresiasi saat melihat situs-situs perkembangan seni, budaya dan tradisi yang dimiliki oleh Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Blora.

Desa Manyaran menjadi tujuan pertama para peserta “Anjangsana Kebudayaan”. Walaupun memperoleh peringkat kedua Reog terbesar setelah Ponorogo, Desa Manyaran, Wonogiri, Jawa Tengah juga memiliki kesenian lain yang sangat banyak dan beragam. Hal ini dibuktikan dengan adanya kelompok seni Pertunjukkan seperti Reog, Gamelan, Tatah Wayang, Kethek Ogleng di hampir setiap rumah di desa ini.

Aktivitas keseharian masyarakat ini ialah latihan dan pentas, selayaknya bunyi gamelan, reog menjadi salah satu soundscape yang otentik. Memiliki kelompok Reog dan menghidupinya adalah sebuah kebanggaan bagi mereka, masyarakat Wonogiri yang genetika kulturalnya hampir sama dengan masyarakat Ponorogo. Pertunjukkan Kelompok Reog Singo Sejati Pimpinan Bapak Joko salah satunya, hidup dan terpelihara oleh masyarakat Kampung Wayang yang budayanya masih begitu kental.

Setelah menyaksikan persembahan seni pertunjukkan reog di Kampung Wayang, para peserta “Anjangsana Kebudayaan” berkesempatan singgah di “Sanggar Adyo Kenyo” yang juga merupakan pusat aktivitas masyarakat dengan profesi mayoritas pembuat wayang kulit.

“Kampung Wayang yang terletak di Desa Manyaran ini semua penduduknya sejak usia dini sudah diajarkan untuk membuat Wayang, kali ini para peserta Anjangsana Kebudayaan juga berkesempatan diajarkan bagaimana cara tatah sungging.” papar Retno Lawiyati selaku Ketua Pengelola Kampung Wayang, Desa Manyaran.

Sederet hasil karya dari warga Kampung Wayang yang berupa tatahan dan nyungging wayang berbahan dasar kulit terpampang dengan baik di salah satu sudut ruangan sanggar ini. Pada kunjungan hari pertama ini beberapa pengrajin ahli pembuat wayang menggelar workshop agar para peserta bisa mencoba dan merasakan proses pembuatan wayang. Seni pertunjukkan “Kethek Ogleng” yang atraktif menjadi sajian penutup persembahan warga Kampung Wayang, Desa Manyaran, Wonogiri, Jawa Tengah.

“Sebagian besar penduduk Manyaran itu bertani tetapi kami secara intens juga mengajarkan tatah sungging, karya-karya mereka sudah siap dijadikan buah tangan maupun sovenir dan dapat menjadi mata pencaharian. Selain itu di Kampung Wayang juga dapat menikmati makanan-makanan tradisional berbahan dasar singkong, tempe benguk dan mencoba jamu-jamu tradisional. Kami sangat berterimakasih kepada Kemendikbud Republik Indonesia telah mengundang Budayawan asing dari Inggris, Irlandia, Jepang dan Australia ke Kampung Wayang.” pungkas Imam selaku Camat Manyaran.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Error: Access Token is not valid or has expired. Feed will not update.
This error message is only visible to WordPress admins

There's an issue with the Instagram Access Token that you are using. Please obtain a new Access Token on the plugin's Settings page.
If you continue to have an issue with your Access Token then please see this FAQ for more information.