Ditjen Kebudayaan Perkenalkan Batik Puro Pakualaman di Jakarta

Yogyakarta (23/11/18) – Batik sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia telah diakui secara resmi oleh UNESCO sejak tahun 2009. Dalam rangka memperkenalkan batik lebih luas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan menggelar acara yang diberi tajuk “Mengenal Batik Puro Pakualaman” mulai tanggal 21-23 November 2018 di Cemara 6 Galeri, Menteng, Jakarta.

“Batik tidak hanya sekedar selembar kain dengan motif tertentu, tetapi batik merupakan jati diri bangsa Indonesia. Dalam selembar batik ada nilai, makna, fungsi sosial dan budaya. Dalam selembar batik ada kesabaran, ketekunan dan olah rasa. Dalam batik ada unsur ekonomi yang dapat mendorong ekonomi berkelanjutan, itulah maka Batik disebut Warisan Budaya Tak Benda.” ujar Dr. Nadjamuddin Ramly, Msi selaku Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dalam sambutannya saat prosesi pembukaan (21/11)  yang dilanjutkan dengan pemotongan pita sebagai tanda resmi dibukanya acara yang diberi tajuk “Mengenal Batik Puro Pakualaman” ini.

Berbagai agenda menarik disiapkan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan selama tiga hari untuk memperkenalkan batik khusunya batik Puro Pakualaman diantaranya Pameran Kain Batik, Bincang-bincang Seputar Batik, Belajar Membuat Motif Batik, dan Pemutaran Film “Sekar” & Bedah Film.

Melalui beberapa agenda tersebut pengunjung berkesempatan untuk mengenal batik lebih dalam, dari mulai sejarah, motif, proses pembuatan dan pengaplikasiannya bersama narasumber-narasumber yang sudah tidak diragukan lagi pengetahuannya di bidang batik diantaranya Dr. Sri Ratna Saktimulya, M.Hum (Dosen Jurusan Sastra Nusantara UGM) dan Dra. R. Ay. Mari Condronegoro (Penulis Buku Busana Adat 1877-1937 Kraton Yogyakarta: Makna dan Fungsi Dalam Berbagai Upacara).

Di hari kedua penyelenggaraannya juga digelar workshop membuat motif batik yang dapat diaplikasikan ke dalam berbagai bahan dan bentuk. Sedangkan agenda terakhir adalah bedah film “Sekar” sebuah film pendek yang bercerita tentang pembatik yang disutradarai oleh Kamila Andini. Sekar Sari sebagai pemeran “Sekar” juga dihadirkan dalam bedah film kali ini. Meski berdurasi pendek, film “Sekar” ini sarat makna filosofis. Bukan sekadar mengangkat batik lewat relasi ibu dan anak dalam cerita ini, tetapi juga mengajak kita untuk bisa mengapresiasi batik dengan cara kita masing-masing.

“Besar harapan kami bahwa kegiatan ini dapat bemanfaat bagi masyarakat yang ingin mengenal lebih jauh tentang Batik dan Batik Puro Pakualaman pada khususnya. Terimakasih kami sampaikan kepada KGPAA Paku Alam X yang berperan aktif dalam penggalian kembali dan pengembangan motif batik Puro Pakualaman serta kesediaannya untuk bekerjasama dengan Kemendikbud dalam terselenggaranya kegiatan ini.” pungkas Dr. Nadjamuddin Ramly, Msi

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.