GKR Hayu Resmi Membuka Pameran Temporer 2018 di Museum Sonobudoyo Yogyakarta

Yogyakarta (02/12/18) – Dalam rangka mendekatkan museum dan mengedukasi masyarakat sekaligus memperingati tahun ke-83, Museum Sonobudoyo Yogyakarta menggelar Pameran Temporer yang mengusung tajuk “Sonobudoyo: Sejarah dan Identitas Keistimewaan” mulai tanggal 30 November – 9 Desember 2018 di Gedung Pamer Museum Sonobudoyo Yogyakarta.

Pameran ini dibuka secara resmi dengan pemukulan kenong oleh GKR Hayu sebagai wakil dari Keraton Yogyakarta. Sama halnya pada 83 tahun lalu ketika museum ini diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Keraton Yogyakarta merupakan tamu teristimewa karena telah memberikan tanahnya untuk dibangun sebuah museum. Pada pembukaan tersebut hadir pula, Budi Wibowo, S.H., M.M selaku PLT Kepala Dinas Kebudayaan DIY.

Pemilihan tema pameran tahun ini tak lepas dari usia museum yang telah mencapai 83 tahun sejak didirikan pada tahun 1935. Angka yang tentunya tidak sedikit untuk sebuah lembaga kebudayaan, yang telah melampaui 3 zamanb sejak masa pendudukan Pemerintah Hindia-Belanda, hingga bergabungnya Negara Yogyakarta pada embrio negara baru, Indonesia.

Pameran ini menghadirkan berbagai macam koleksi museum yang berasal dari masa Java Instituut. Tak hanya itu, koleksi hibah masyarakat dan pinjaman dari lembaga institusi lain turut dipamerkan. Koleksi dengan identitas keistimewaan Yogyakarta pun turut hadir memperkuat narasi wilayah ini sebagai daerah istimewa.

Drs. Diah Tutuko Suryandaru selaku Kepala Museum Sonobudoyo menjelaskan bahwa pada pameran temporer kali ini, masyarakat diharapkan dapat melihat perjalanan panjang dari sebuah institusi museum yang telah berdiri sejak tahun 1935 hingga sekarang. Di sisi lain, masyarakat dapat menempatkan nuseum sebagai bagian dari diri kita, sekaligus penguat identitas bangsa.

“Ke depannya, museum akan membangun sebuah gedung ruang pamer baru yang diharapkan memberi narasi sejarah, terutama mengekspresikan budaya jawa, serta memiliki visi menjadi museum berstandar internasional. Oleh karenanya pameran temporer ini menjadi salah satumomentum yang baik bagi museum untuk memperbaiki diri lagi sekaligus sebagai sebuah refleksi perjalanan mencapai usianya yang ke-83 tahun.” pungkas Drs. Diah Tutuko Suryandaru.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.