Griya Seni Hj. Kustiyah Edhi Sunarso “Persembahan Untuk Istriku”

Edhi Sunarso, pematung utama Indonesia yang bisa dikatakan sebagai legenda hidup seni rupa Indonesia. Pematung kelahiran Salatiga, 2 Juli 1932 ini adalah pelaksana proyek pembangunan patung yang diinisiasi oleh Presiden Sukarno. Proyek-proyek monumen yang dikerjakan antara lain Patung Selamat Datang yang ada di Bundaran Hotel Indonesia, Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng & Patung Dirgantara di kawasan Pancoran, Jakarta. Selain mengerjakan patung-patung tersebut, ia banyak membuat proyek lainnya di masa Orde Baru. Sebagai seniman, tentu saja ia juga mengerjakan patung-patung pribadinya sejak tahun 1950 hingga kini.

Adapun almarhumah Hj. Kustiyah, sang istri yang meninggal Juni 2012, adalah perempuan pelukis yang juga penting untuk dicatat. Kustiyah yang dinikahi Edhi pada tahun 1955 (saat mereka sama-sama kuliah di ASRI Yogyakarta), merupakan pelukis yang produktif. Kustiyah yang lahir pada 2 September 1935 ini melukis dengan tema-tema lingkungan sekitar. Ia menggunakan pendekatan gaya post-impresionistik dalam melukis. Kustiyah tercatat pernah berpameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta pada 1999. Artinya, dari profesi yang digeluti oleh Kustiyah dan Edhi Sunarso terlihat bahwa keluarga mereka tak lepas dari kegiatan seni.

Untuk itulah, keluarga besar Edhi Sunarso mempersembahkan sebuah ruang yang nantinya berfungsi sebagai penanda bagi eksistensi mereka berdua. Tujuan lain adalah sebagai ruang berkumpul dan berekspresi, baik untuk keluarga sendiri maupun untuk para penggiat seni lainnya. Griya Seni Hj. Kustiyah/Edhi Sunarso terletak di desa Nganti, Jl. Cempaka Rt 02 Rw 07 No 72 Mlati Sleman Yogyakarta. Ruang ini merupakan bangunan baru yang berlantai dua. Galeri utama Lt. 1 seluas 180 meter persegi, Lt. 2 seluas 90 meter persegi, galeri kedua 40 meter persegi, dan studio terbuka 200 meter persegi.

Dalam ruang ini tersaji sejumlah 36 lukisan karya Kustiyah, 34 patung yang tersaji dalam ruang dan sekitar 10 patung yang ditampilkan di luar ruang karya Edhi Sunarso. Lukisan-lukisan serta patung-patung ini merupakan buah dari cinta mereka sekaligus bagian dari sejarah hidup dan karir kreatifnya. Selebihnya yang tersaji dalam pameran ini ada 71 foto. Dalam ruang pamer ini tersaji pula foto-foto proses kerja pembangunan 3 (tiga) monumen di Jakarta, patung-patung proyek pada masa Orde Baru, dan foto-foto karya-karya patung pribadi Edhi Sunarso. Selain foto tersebut, tersaji 10 foto kisah pribadi Kustiyah/Edhi Sunarso. Di luar karya seni lukis, terdapat 14 sketsa dan 7 karya seni grafis dengan teknik wood cut.

Inilah pencapaian Edhi Sunarso dan Hj. Kustiyah yang tidak pernah lelah berkarya. Menurut Suwarno Wisetrotomo, pengamat seni rupa Indonesia, keberadaan Griya Seni ini diharapkan dapat menyerap nilai-nilai, spirit dan inspirasi agar kita dapat memaknai hidup dan melihat komitmen dedikasi dan kesungguhan sikap dalam berkesenian yang dilakukan Edhi Sunarso dan Kustiyah.

Dalam peresmian yang dibuka oleh KPH Indrokusumo perwakilan dari Sri Paduka Paku Alam IX yang kebetulan berhalangan hadir pada Minggu (20/09/15) yang lalu, sebuah patung batu yang sudah lama didisplai di halaman Gedung DPRD DIY, bersamaan dengan patung Jenderal Sudirman karya Hendra Gunawan dapat disaksikan. Patung berjudul Kelaparan yang dikerjakan pada 1950 ini kini merupakan bagian dari benda cagar budaya. Dan ini merupakan kesempatan berharga bagi kita untuk bisa menjadi saksi atas berbagai karya monumental milik mereka berdua.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.