Jemek Supardi Lepas Atribut Masa Lalunya di Pementasan Napas

BerandaJogja.com (02/09/16) – Jemek Supardi, seorang pantomimer legendaris Yogyakarta baru saja menggelar pementasan yang bertajuk “Napas” di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta (01/09.

Pertunjukkan yang diproduksi oleh Sanggar Seni Kinanti Sekar ini merupakan perwujudan dari janji Jemek Supardi yang akan melepas segala atribut masa lalunya untuk bersiap menerima kedatangan hari esok yakni kehadiran calon cucunya yang telah dinanti.

“Bernapas merupakan nikmat dan karunia Tuhan yang tak ternilai harganya. Mulai dari kita lahir sampai dengan detik ini, nikmat itu tak pernah lepas dari kehidupan kita. Sebagai makhluk ciptaan-Nya patutlah kita bersujud syukur atas nikmat dan karuniaNya.” ujar jemek Supardi.

Gagasan tersebut akhirnya menjadi ide dasar terciptanya proses kreatif seni pertunjukkan pantomime yang bertajuk “Napas”. Bagi Jemek Supardi sangat perlu mengembangkan tema yang bersifat personal atau internal ini menjadi satu gagasan yang menyeluruh bahwa kelahiran adalah peristiwa seluruh makhluk hidup di alam semesta.

“Ini merupakan ungkapan syukur bapak saya. Sehingga saya menilai pertunjukkan ini tidaklah sekedar pertunjukkan, namun seperti halnya ritual. Dalam peristiwa kesenian ini, bagi saya sangat menarik karena pantomime akhirnya berperan sebagai daya ungkap dari sebuah ritual kebersyukuran. Ada pertemuan antara medium tradisional dan teknik pertunjukkan modern.” ujar Kinanti Sekar, yang juga salah satu pemilik Sanggar Kinanti.

Jemek Supardi dalam proses kreatif ini mengajak Jujuk Prabowo sebagai Sutradara, Ong Hari Wahyu sebagai Penata Artistik, Ki Wahono dan Gigin Ginanjar sebagai penata iringan, dan Ahmad Suharno sebagai penata cahaya. Pemangiilan nama-nama diatas merupakan kesadaran Jemek Supardi bahwa seni pertunjukkan tak bisa berdiri sendiri, harus ada tim pendukung lainnya sehingga gagasan dapat tersampaikan dengan baik kepada penonton.

“Ada kesadaran yang harus dibangun yaitu kesadaran bahwa ini adalah pertunjukkan dan kesdaran bahwa ini adalah ritual doa. Nah, untuk itu perlu jalinan cerita apik yang harus digarap.” ucap Jujuk Prabowo.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.