Menyusuri Sejarah Panjang Warisan Budaya Bangsa di Museum Batik Danar Hadi Surakarta

BerandaJogja.com (03/09/19) – Museum Batik Danar Hadi yang juga merupakan Museum Batik Terbesar di Asia Tenggara ini terletak di jalan Brig. Jen. Slamet Riyadi No. 261 Surakarta, tepatnya di dalam kompleks nDalem Wuryaningratan, sebuah kompleks yang dulu merupakan tempat kediaman keluarga K.R.M.H. Wuryaningrat, menantu dan juga sekaligus Pepatih dalem dari raja Kasunanan Surakarta saat itu yakni Pakoe Boewono ke X.

nDalem Wuryaningratan yang berarsitektur Jawa kuno ini dibangun kurang lebih pada abad ke XIX (kira – kira pada tahun 1890) oleh seorang arsitek dari negeri Belanda. Hal itu terlihat pada tampak depan bangunan yang bernuansa Eropa, namun tata ruangnya tetap mengikuti konsep rumah adat Jawa yang terdiri dari Pendapa, Pringgitan, nDalem Ageng, Gandhok kiwa (kiri) dan Gandhok tengen (kanan), serta sebuah ruangan keluarga yang ditata dengan gaya Eropa.

Sebagaimana rumah – rumah bangsawan pada masa itu, maka ndalem Wuryaningratan pun memiliki halaman yang sangat luas. Dan ditempat inilah Bapak H. Santosa Doellah, Direktur Utama PT. Batik Danar Hadi yang juga seorang kolektor batik kuno mendirikan museum batik sebagai obsesi, komitmen dan dedikasi beliau pada seni kerajinan batik, yang telah digelutinya sejak usia remaja.

“Museum Batik yang terletak di sebelah timur ndalem Wuryaningratan ini oleh Bapak H. Santosa diberi nama “Museum Batik Danar Hadi” dan dibuka secara resmi oleh ibu Hj. Megawati Soekarnoputri pada hari Jum`at tanggal 20 Oktober 2000 semasa beliau menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.” papar Asti Suryo Astuti selaku Asisten Manajer Museum Batik Danar Hadi.

Museum ini dirancang dengan bentuk bangunan yang disesuaikan dengan arsitektur nDalem Wuryaningratan. Ruangan di dalam museum terbagi menjadi sebelas ruangan, yang dipergunakan untuk memajang koleksi batik kuno Bapak H. Santosa Doellah yang terbagi menjadi sembilan jenis batik, sesuai dengan tema dari museum yaitu “Batik Pengaruh Zaman dan Lingkungan”.

“Ke sembilan jenis batik tersebut adalah: Batik Belanda, Batik Cina, Batik Djawa Hokokai, Batik Pengaruh India, Batik Kraton, Batik Pengaruh Kraton, Batik Sudagaran dan Batik Petani, Batik Indonesia, dan Batik Danar Hadi. Pemilihan tema seperti tersebut di atas tak lepas dari pengalaman dan pengamatan bapak H. Santosa yang sejak usia 15 tahun sudah menekuni, menggeluti dan meneliti seni kerajinan batik. Menurut beliau sehelai wastra (kain) batik pada warna dan  polanya akan dipengaruhi oleh zamannya dan atau lingkungannya.” imbuh Asti.

Latar belakang pendirian museum ini berawal dari keprihatinan  dan obsesi bapak H. Santosa terhadap pelestarian dan pengembangan seni kerajinan batik serta  minimnya apresiasi masyarakat terutama generasi mudanya terhadap seni kerajinan batik yang merupakan warisan budaya bangsa.

Dengan berbagai macam koleksi yang beliau miliki dan telah beliau kumpulkan sejak tahun 1967, baik yang berasal dari leluhur – leluhur beliau maupun pembelian dari para kolektor yang jumlahnya hampir mencapai 10.000 (sepuluh ribu) potong, beliau berkeinginan  menampilkan koleksinya tersebut secara bertahap dan bergantian serta menatanya dengan cara yang berbeda dari museum – museum yang sudah ada di Indonesia, dengan maksud untuk lebih menarik minat pengunjung terutama generasi muda.

Penataan ruangan yang mempunyai konsep dan tema berbeda, nyaman dan tidak terkesan kuno dengan memadukan perangkat – perangkat etnik Jawa maupun perangkat lain yang disesuaikan dengan kain batik yang dipajang  menjadikan museum ini berbeda dengan museum – museum lainnya.

Di kompleks nDalem Wuryaningratan ini juga terdapat showroom yang menjual berbagai macam produk dari  PT. Batik Danar Hadi, juga sebuah restaurant yang diberi nama Soga Resto and Lounge. Fasilitas lain yang bisa didapati adalah dua buah function room yaitu Pendapa nDalem Wuryaningratan dan Sasono Mangunsuko, ruangan yang biasanya dipergunakan untuk menyelenggarakan paket – paket  Wisata Budaya Terpadu Museum Batik  Danar Hadi. Dengan demikian di kompleks ini diciptakan tujuan wisata dengan konsep “One Stop Shopping dan One Stop Batik Adventure”, sehingga para wisatawan bisa menghemat waktunya saat berkunjung ke kota Surakarta.

Sejak didirikannya Museum Batik Danar Hadi banyak manfaat yang didapat baik secara internal maupun eksternal. Manfaat internal yang dimaksud adalah sejak adanya museum tersebut, maka telah diselenggarakan in house training bagi para Pimpinan toko RBDH (Rumah Batik Danar Hadi), Supervisor toko dan mereka yang merupakan ujung tombak terutama di bagian penjualan mengenai seni kerajinan batik berikut prosesnya, yang saat ini sudah mencapai angkatan ke VI.

‘Usia Museum Batik Danar Hadi kini menginjak hampir lima belas tahun, namun masih banyak tantangan dan hambatan yang harus dihadapi demi untuk melestarikan dan mengembangkan seni kerajinan batik yang merupakan warisan budaya bangsa. Semoga apa yang telah dikerjakan melalui keberadaan museum ini dapat membantu usaha – usaha kita semua di dalam melestarikan budaya bangsa.” pungkas Asti.


Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.