Utamakan Keselamatan Siswa, TCKN Tempuh Audit Independen di Tengah Sengketa Gedung

BerandaJogja.com (03/02/26) – Yayasan Taman Cipta Karya Nusantara (TCKN) menegaskan komitmennya untuk menempatkan keselamatan peserta didik sebagai prioritas utama di tengah bergulirnya sengketa hukum terkait pembangunan Gedung Hanoman di kawasan Palagan, Sleman.

Langkah audit independen terhadap bangunan sekolah yang disengketakan disebut sebagai bagian dari prinsip kehati-hatian, bukan bentuk penghindaran kewajiban.

Sengketa konstruksi yang kini bergulir di Pengadilan Negeri Sleman tersebut sempat memicu berbagai narasi di ruang publik. Namun, Yayasan TCKN menilai bahwa isu yang berkembang kerap tidak menampilkan konteks utuh, khususnya terkait alasan dilakukannya evaluasi teknis terhadap bangunan sekolah.

Kuasa Hukum Yayasan TCKN, Riandy Aryani, S.H., menjelaskan bahwa audit independen dilakukan semata-mata untuk memastikan kelayakan dan keamanan gedung sebelum digunakan secara penuh oleh siswa.

“Ini adalah sikap wajar dan bertanggung jawab dari sebuah institusi pendidikan. Ketika ada keraguan terhadap aspek teknis bangunan, apalagi yang akan digunakan anak-anak, maka langkah audit independen adalah keharusan moral dan hukum,” ujar Riandy dalam keterangan resminya di Yogyakarta, Selasa (3/2/2026).

Menurutnya, seluruh klaim dan dalil yang diperselisihkan saat ini telah masuk ke ranah hukum dengan Nomor Perkara 201/Pdt.G/2025/PN Smn. Karena itu, Yayasan memilih menempuh jalur legal yang sah dan menghindari polemik di ruang publik.

“Forum pengadilan adalah tempat yang tepat untuk menguji bukti dan argumentasi. Kami menghormati proses tersebut dan berharap semua pihak melakukan hal yang sama,” tambahnya.

Sementara Ketua Yayasan TCKN, Crista Trirahayu, menyatakan di tengah isu yang berkembang, Yayasan TCKN menegaskan bahwa aktivitas belajar mengajar tetap berjalan normal dan kondusif. Perhatian utama yayasan tidak pernah bergeser dari tanggung jawab terhadap siswa dan orang tua.

“Kami memilih fokus pada anak-anak. Pendidikan harus tetap berjalan dengan aman, nyaman, dan berkualitas, apa pun situasi yang sedang kami hadapi,” kata Crista.

Ia mengungkapkan, kepercayaan masyarakat justru menunjukkan tren positif. Dalam dua tahun terakhir, jumlah peserta didik di sekolah yang dikelola TCKN mengalami peningkatan signifikan hingga mencapai 100 persen.

“Dari sekitar 50 siswa di awal, kini jumlahnya sudah lebih dari 150 siswa. Ini menunjukkan bahwa orang tua melihat langsung kualitas dan kesungguhan kami dalam mengelola pendidikan,” ujarnya.
Selain memastikan aspek keselamatan fisik bangunan, Yayasan TCKN terus memperkuat kualitas sumber daya manusia. Saat ini, sebanyak 25 guru dan staf pendukung rutin mengikuti pelatihan dan pengembangan kompetensi.
Crista menambahkan bahwa pendekatan tersebut membuahkan kepercayaan dari berbagai institusi pendidikan tinggi. Yayasan TCKN telah menjalin kerja sama melalui nota kesepahaman dengan Universitas Sanata Dharma, serta berkolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam program magang dan pengembangan pendidikan.

“Kami ingin memastikan sistem pendidikan yang kami bangun berkelanjutan dan dapat dipertanggungjawabkan. Itu sebabnya kami terbuka untuk kolaborasi dan evaluasi,” jelasnya.

Terkait rencana pengembangan jenjang pendidikan ke tingkat Sekolah Dasar (SD), Crista menegaskan bahwa penggunaan gedung baru hanya akan dilakukan setelah seluruh aspek keamanan dinyatakan layak oleh auditor independen.

“Keselamatan anak-anak tidak bisa ditawar. Jika ada rekomendasi perbaikan, pasti kami tindak lanjuti. Prinsip kami sederhana, sekolah harus aman sebelum digunakan,” tegasnya.

Dengan tetap mengedepankan proses hukum, transparansi, dan keselamatan peserta didik, Yayasan TCKN berharap polemik yang terjadi dapat disikapi secara proporsional, tanpa mengganggu hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan aman. (Palupi Sastro)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *