Domino Naik Kelas, Dari Permainan Warung Kopi Jadi Ruang Prestasi Lintas Generasi

BerandaJogja.com (09/01/26) – Siapa sangka permainan yang akrab di meja warung kopi, pos ronda, hingga teras rumah warga kini resmi menjadi cabang olahraga nasional. Domino, yang selama ini identik dengan hiburan santai masyarakat, kini memasuki babak baru sebagai arena prestasi, pembinaan atlet, dan ruang pertemuan lintas generasi.

Perubahan besar ini ditandai dengan Deklarasi Nasional dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Pengurus Besar Olahraga Domino Indonesia (PB ORADO) di Jakarta, Rabu (7/1/2026).

Domino tak lagi sekadar permainan pengisi waktu, tetapi mulai ditata sebagai olahraga kompetitif yang menjunjung sportivitas, etika, dan standar profesional. Ketua Pengprov ORADO DIY Lilik Syaiful Ahmad menilai perubahan ini membuka peluang besar, bukan hanya bagi atlet, tetapi juga bagi masyarakat luas.

“Domino ini unik karena bisa dimainkan siapa saja, dari anak muda sampai orang tua. Ketika ia naik kelas menjadi olahraga, ia bukan hanya soal prestasi, tapi juga soal mempertemukan generasi, membangun ruang interaksi sosial yang sehat, dan membuka jalur pembinaan yang positif,” ujar Lilik dalam keterangan tertulisnya, Jumat (9/1/2026).

Di DIY, ORADO bergerak cepat menyiapkan ekosistem tersebut. Pengprov ORADO DIY telah membentuk pengurus cabang di seluruh kabupaten/kota, menyiapkan perangkat wasit, serta merancang pelatihan dan kejuaraan berjenjang dari tingkat daerah hingga nasional.

Langkah ini dinilai penting agar transformasi domino tidak berhenti di level simbolik, tetapi benar-benar menyentuh akar rumput. Dengan adanya kejuaraan daerah, komunitas domino yang selama ini tersebar informal mulai mendapat ruang resmi untuk berkembang.

Selain jalur prestasi, ORADO juga mengusung semangat #EfekDomino, sebuah gerakan perubahan positif yang diharapkan menular dari satu komunitas ke komunitas lain. Melalui domino, ORADO mendorong partisipasi masyarakat lintas usia dalam kegiatan yang kompetitif namun tetap inklusif.

“Ketika orang punya ruang bermain yang sehat, terorganisir, dan bermakna, dampaknya tidak hanya pada olahraga, tapi juga pada relasi sosial dan kualitas interaksi masyarakat,” tambah Lilik.

Ke depan, domino bukan hanya akan hadir di ruang-ruang kompetisi, tetapi juga di sekolah, komunitas pemuda, hingga desa-desa sebagai bagian dari gerakan olahraga masyarakat. Dari meja kayu di warung kopi hingga podium kejuaraan nasional, domino kini menempuh perjalanan baru sebagai olahraga yang merangkul, menyatukan, dan menantang.

Domino telah naik kelas, bukan hanya sebagai olahraga, tetapi sebagai medium sosial baru yang memadukan tradisi, kompetisi, dan kebersamaan dalam satu meja permainan. (Palupi Sastro)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *