Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/berj3585/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Kampus Berdampak, Respons Kebencanaan UGM Dorong Pembangunan Berkelanjutan

BerandaJogja.com (20/12/25) – Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara menjadi ujian nyata bagi berbagai institusi dalam menjalankan tanggung jawab sosialnya.

Di tengah situasi darurat tersebut, Universitas Gadjah Mada (UGM) mengambil langkah konkret dengan membentuk Emergency Response Unit (ERU) sebagai wujud peran kampus dalam kontribusi kemanusiaan dan pembangunan berkelanjutan.

Pembentukan ERU UGM menegaskan komitmen universitas tidak hanya sebagai pusat pendidikan dan riset, tetapi juga sebagai institusi yang hadir dan berdampak langsung bagi masyarakat.

Melalui unit ini, UGM mengoordinasikan respons cepat terhadap bencana dengan melibatkan berbagai elemen sivitas akademika untuk memastikan bantuan dapat tersalurkan secara tepat sasaran.

Pasca bencana, UGM segera bergerak memberikan bantuan langsung kepada masyarakat terdampak. Penggalangan dana dilakukan secara kolektif sebagai bentuk solidaritas bersama, sekaligus memperkuat semangat gotong royong yang menjadi nilai dasar dalam pengabdian kampus kepada masyarakat.

Bantuan tersebut disalurkan untuk memenuhi kebutuhan mendesak warga yang terdampak banjir bandang dan longsor di sejumlah wilayah. Langkah cepat UGM melalui ERU juga mencerminkan pendekatan keberlanjutan dalam penanganan bencana.

Respons yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada fase tanggap darurat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya jangka panjang dalam membangun ketangguhan masyarakat terhadap risiko bencana di masa mendatang.

Inisiatif ini sejalan dengan semangat Kampus Berdampak, di mana perguruan tinggi diharapkan mampu mengintegrasikan nilai kemanusiaan, tanggung jawab sosial, dan pembangunan berkelanjutan dalam setiap perannya.

Selain melakukan pendataan mahasiswa yang terdampak, UGM memberikan bantuan serta pendampingan yang diperlukan. Dari hasil pendataan, kebutuhan bantuan mahasiswa terdampak cukup beragam, mulai dari keringanan UKT, bantuan biaya hidup harian, bantuan makan, paket sembako, bantuan biaya kos, hingga pendampingan konseling.

“Bahkan, beberapa mahasiswa berpotensi mengajukan cuti akademik akibat kondisi keluarga di daerah asal yang kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, maupun sumber penghasilan,” papar Rektor UGM, Ova Emilia pada puncak peringatan Dies Natalis ini, Jumat (19/12/2025), di Grha Sabha Pramana UGM.

Tidak hanya itu, UGM juga memberangkatkan tim relawan yang terdiri dari tim medis yang terdiri dari dari dokter spesialis lintas disiplin, perawat, apoteker, nutrisionis, dan sanitarian dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) dan RSA UGM ke lokasi terdampak bencana.

Para relawan tersebut melakukan pendataan kebutuhan obat-obatan dan alat medis, serta berkoordinasi dengan rumah sakit setempat untuk memastikan layanan kesehatan tetap berjalan secara optimal.

Selama masa tanggap darurat ini, UGM sudah mengirim empat tim medis secara bergantian untuk memberikan bantuan kesehatan sekaligus memetakan kapasitas rumah sakit di Aceh.

Dari tim psikososial, UGM juga memberikan perhatian khusus pada pemulihan psikologis penyintas. Tim ini berperan melakukan pendampingan langsung di lokasi bencana dan telah mengirimkan sejumlah anggota untuk terlibat secara aktif.

Tim ini menyelenggarakan pelatihan pendampingan psikososial bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala, sebagai upaya memperkuat kapasitas pendampingan yang berkelanjutan di wilayah terdampak.

Beberapa tim juga melakukan pengembangan teknologi terapan dengan memasang alat penjernih air bertenaga surya di puskesmas dan rumah sakit di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Utara Utara serta pemasangan alat deteksi banjir dan tsunami di Aceh.

Terkait dengan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, UGM tengah menyusun rekomendasi yang dapat digunakan oleh pemerintah. Rekomendasi tersebut mencakup penyediaan hunian dan kawasan sementara, pemulihan ekonomi serta sosial budaya, hingga pembahasan aspek hukum dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Mengingat dampak bencana yang sangat luas dan masif, keberadaan hunian sementara sebelum transisi menuju hunian tetap menjadi kebutuhan yang sangat krusial,” paparnya.

Rektor menambahkan, UGM mengembangkan geoportal basis data, melakukan kajian eksisting bencana, menyusun sop dan mitigasi bencana, menyusun skenario rehabilitasi dan rekonstruksi, melakukan pendampingan psikososial, dan mengelola komunikasi publik terkait mitigasi bencana.

Bahkan untuk memperkuat kontribusi kemanusiaan, UGM juga bekerjasama dengan berbagai pihak, termasuk alumni, filantropis, BRIN, dan pemerintah pusat.

“Berbagai inisiatif tersebut, saat ini diintegrasikan dengan langkah pemerintah pada masa tanggap darurat dan dalam penyusunan roadmap rehabilitasi-rekonstruksi yang dikoordinir oleh Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan,”ujarnya.

Ova berharap perjalanan UGM hingga berusia 76 tahun ini tidak hanya melahirkan tokoh kepemimpinan bangsa dan para penggerak pembangunan sosial ekonomi di berbagai bidang, tetapi juga melahirkan berbagai karya riset dan inovasi yang dibutuhkan industri.

Di bidang energi, UGM berhasil mengembangkan inovasi untuk sumber alternatif Energi Baru Terbarukan (EBT) Biodiesel dan Bioetanol dalam kawasan hutan, yakni pengembangan bioetanol dari tanaman sorgum dimana 100 ml air gula sorgum tersebut dapat menghasilkan 60 ml bioetanol lalu 3 batang tanaman sorgum bisa menghasilkan 100 ml air gula sorgum.

Selanjutnya di bidang pangan, inovasi UGM telah menghasilkan berbagai komoditas pangan dan pengolahan melalui label Gamafood.

Di bidang teknik, berbagai inovasi juga telah dilahirkan dan diserap industri. Sementara itu, di bidang sosio humaniora, berbagai engineering kebijakan dan penguatan fondasi masyarakat semakin meneguhkan relevansi kampus terhadap tantangan sosial.

Khususnya, di bidang inovasi kesehatan dan farmasi, UGM di antaranya berhasil melakukan hilirisasi produk seperti Rapid Assessment Diabetic Retinopathy (RADR), RZ-VAC (Vacuum Assisted Closure), Dental SilkBon, Divabirth, Aphrofit, dan Konilife Memora. Lalu ImunoGama  Konilife Memora, Essonina, OST-D, Hesdrink.

Untuk hilirisasi dan komersialisasi riset, UGM juga melakukan penguatan dan pengawalan inovasi dengan tingkat kesiapan teknologi dimana adanya penerimaan royalti dari hasil Inovasi produk yang diadopsi oleh Mitra Industri seperti Pengiriman tahap pertama 10 ton Benih Gamagora ke PT. Agrinas, Hilirisasi Ventilator Venindo, dan Makloon Coklat UGM CTLI untuk ATJ dan Tokyo Food.

“Untuk padi Gamagora, produksi benih sudah mencapai 28,6 ton yang tersebar di 15 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Dengan sejumlah program yang telah dirancang dan dijalankan, UGM berharap mampu meneguhkan posisi diri sebagai enabler pembangunan SDM dan pengembangan teknologi masa depan. Melalui semangat, “Merakyat, Mandiri, dan Berkelanjutan”, UGM memiliki harapan menjadi perguruan tinggi yang senantiasa mempersembahkan karya pendidikan, penelitian, dan pengabdian dengan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

“Juga mendukung kedaulatan bangsa, serta mendorong pembangunan berkelanjutan,” imbuhnya. (Palupi Sastro)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *