AcaraGaya HidupHeadlineHiburan

15 Menit Dance Lawan Sedentari, 7 Tim Berebut Tiket ke Jepang

BerandaJogja.com (29/08/26) – Tak perlu langsung berolahraga berat untuk mulai membangun gaya hidup aktif. Menyisihkan waktu 15 menit untuk bergerak bisa menjadi langkah sederhana, terutama bagi anak muda yang sehari-hari lebih banyak duduk dan beraktivitas di depan layar.

 

Dan menjadi salah satu pilihan aktivitas fisik yang dinilai mampu menjawab tantangan tersebut. Selain membuat tubuh bergerak, dance juga lekat dengan musik, komunitas, ekspresi diri hingga budaya populer.
Semangat itu dibawa melalui Komix Herbal POTEK Dance Fest 2026 dengan gerakan #DanceOnCoughOff. Ajang ini mendorong generasi muda membangun kebiasaan aktif melalui aktivitas yang mereka sukai.
Dokter olahraga dan Health Influencer dr. Ikhwan Zein, Sp.KO., Subsp.ALK (K), Ph.D di Amaranta Prambanan Yogyakarta, Jumat (28/8/2026) malam  mengatakan aktivitas fisik tidak harus selalu dimulai dari olahraga berat. Aktivitas yang menyenangkan dan sesuai minat justru dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan aktif.
“Dance dapat menjadi salah satu bentuk aktivitas fisik yang menyenangkan karena di dalamnya terdapat gerakan yang melibatkan berbagai bagian tubuh. Ketika dilakukan secara rutin, dengan durasi dan intensitas yang sesuai kemampuan, dance dapat ikut memberikan stimulus bagi sistem kardiorespirasi, yaitu kerja jantung, paru, dan sirkulasi tubuh dalam menunjang aktivitas fisik,” jelasnya.
Menurut dia, salah satu indikator kebugaran kardiorespirasi adalah VO₂max, yakni kemampuan maksimal tubuh mengambil dan menggunakan oksigen ketika melakukan aktivitas fisik dengan intensitas tinggi.
VO₂max, kata Ikhwan, tidak hanya penting bagi atlet. Kebugaran kardiorespirasi juga berkaitan dengan kemampuan masyarakat umum menjalankan aktivitas fisik sehari-hari.
“VO₂max pada dasarnya menggambarkan seberapa baik tubuh kita menggunakan oksigen saat bekerja. Dance yang dilakukan dengan intensitas cukup untuk meningkatkan denyut jantung dan pernapasan dapat menjadi salah satu bentuk latihan aerobik,” paparnya.
Namun, peningkatan kebugaran tidak cukup hanya dengan bergerak sesekali. Untuk melatih kebugaran kardiorespirasi dan mendorong peningkatan VO₂max, tetap dibutuhkan konsistensi serta kombinasi durasi, frekuensi, dan intensitas latihan yang memadai.
“Jadi bukan semata-mata soal bergerak selama beberapa menit, tetapi bagaimana aktivitas itu kemudian berkembang menjadi kebiasaan aktif,” ujarnya.
Karena itu, konsep 15 Menit Dance yang diusung POTEK Dance Fest bukan dimaksudkan sebagai batas akhir aktivitas fisik. Durasi tersebut menjadi ajakan sederhana agar anak muda mulai menyisihkan waktu untuk bergerak, kemudian secara bertahap meningkatkan durasi dan intensitas sesuai kemampuan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan orang dewasa usia 18–64 tahun melakukan 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang atau 75–150 menit aktivitas aerobik intensitas berat dalam seminggu, atau kombinasi keduanya. WHO juga menekankan melakukan aktivitas fisik dalam jumlah tertentu tetap lebih baik dibandingkan tidak bergerak sama sekali.
“Aktivitas dapat dimulai dari jumlah kecil sebelum frekuensi, intensitas, dan durasinya ditingkatkan secara bertahap,” paparnya.
Sementara Arwin Nugraha Hutasoit, Group Head of Marketing & Media Activation KALBE Consumer Health mengatakan kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu persoalan kesehatan yang ditemukan dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan.
“Anak muda sebenarnya punya begitu banyak cara untuk bergerak. Karena itu, kami ingin mengajak mereka memulainya dari aktivitas yang memang mereka sukai,” ujarnya.
Menurutnya, dance tidak semata-mata berkaitan dengan kompetisi dan kemampuan di atas panggung. Dance bukan hanya soal kompetisi atau kemampuan di atas panggung, tetapi juga tentang bergerak, berekspresi, bertemu komunitas.
“Juga membangun kebiasaan aktif dengan cara yang menyenangkan,” katanya.
Karena itu Komix Herbal POTEK Dance Fest 2026 digelar. Setelah melalui rangkaian submission, audisi, dan enam semifinal regional di berbagai daerah, tujuh tim akhirnya maju memperebutkan Rp50 Juta dan tiket ke Jepang.
Sebanyak tujuh tim akan bertemu dalam Grand Final di kawasan Prambanan, Yogyakarta, Minggu (30/8/2026). Mereka adalah InMotion Dance House dari Medan, ArteeZ dari Jabodetabek, Mystylez Crew dari Jawa Barat, Waackanizm dari Jawa Tengah, Sunkiss Dance Crew dari Jawa Timur, Zenith dari Sulawesi, serta A-Youngz dari Jabodetabek yang lolos melalui jalur Brand’s Choice Wildcard.
Dalam acara tersebut, peserta ditantang tidak hanya menunjukkan kemampuan teknis, tetapi juga mengeksplorasi identitas dan menerjemahkan unsur budaya Indonesia melalui koreografi, musik, kostum, dan ekspresi panggung.
“POTEK Dance Fest 2026 mengusung tema Modern with Indonesian Heritage,” ujarnya.
International dancer asal Jepang, Ibuki, yang menjadi International Judge, mengatakan kompetisi menjadi ruang bagi dancer untuk belajar dari peserta lain.
“Saya sangat menantikan bagaimana para finalis membawa karakter mereka sendiri, terutama ketika mereka harus menggabungkan dance modern dengan unsur budaya Indonesia,” ujarnya.
Ia berharap para peserta berani mengeksplorasi ide, percaya pada identitas masing-masing, dan menikmati kesempatan tampil di panggung Grand Final.
Di babak final, teknik bukan satu-satunya penentu. Juri akan melihat bagaimana peserta menyatukan teknik, musikalitas, kekompakan, kreativitas, storytelling, serta kekuatan penampilan menjadi sebuah karya yang memiliki identitas. (Palupi Sastro)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *