Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/berj3585/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170

Seperempat Anak Indonesia Kehilangan Sosok Ayah, Ancaman Krisis Kesehatan Mental Mengintai Generasi Muda

BerandaJogja.com (30/06/26) – Fenomena anak yang tumbuh tanpa kehadiran aktif seorang ayah dalam kehidupan sehari-hari semakin menjadi perhatian serius di Indonesia. Di tengah derasnya arus informasi digital dan dominasi media sosial, hilangnya figur ayah atau fatherless dinilai menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi kesehatan mental anak dan remaja Indonesia.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji dalam Ngobrol Perkara Gati (NGOPI) sebagai rangkaian Hari keluarga Nasional di Balaikota Yogyakarta, Jumat (26/6/2026) mengungkapkan Indonesia saat ini menghadapi persoalan besar terkait absennya peran ayah dalam pengasuhan anak.

Dia menyebut terdapat sekitar 46 juta keluarga di Indonesia yang memiliki anak berusia 10 hingga 24 tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 25 persen di antaranya mengalami kehilangan figur ayah dalam kehidupan sehari-hari.

“Di Indonesia, 25 persen kehilangan sosok ayah. Artinya, dari 46 juta keluarga yang mempunyai anak usia 10 sampai 24 tahun, sekitar 25 persennya kehilangan sosok ayah,” ujar Wihaji.

Menurutnya, ketidakhadiran ayah bukan sekadar persoalan relasi keluarga, melainkan berdampak langsung terhadap kondisi psikologis anak. Saat ini sekitar 34 hingga 35 persen anak Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental, dan separuh dari jumlah tersebut berpotensi berkembang menjadi gangguan jiwa apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

“Akibatnya, hari ini 34 sampai 35 persen anak kita mengalami gangguan mental atau kesehatan mentalnya terganggu. Dari kesehatan mental yang terganggu itu, sekitar 50 persennya berpotensi menuju gangguan jiwa.

Ia juga mengingatkan para orang tua agar tidak sepenuhnya menyalahkan anak ketika mereka sulit dinasihati atau terlalu bergantung pada gawai. Sebab, anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang sering kali minim komunikasi dan interaksi bersama keluarga.

Untuk itu, para ayah didorong untuk kembali hadir dalam kehidupan anak-anak mereka, mulai dari hal-hal sederhana seperti makan bersama tanpa gawai, berbicara dari hati ke hati, hingga terlibat aktif dalam pendidikan anak, termasuk saat pembagian rapor di sekolah.

Jangan salahkan anak kita kalau kita sendiri tidak pernah mengobrol dengan mereka. Kita sibuk mencari uang untuk keluarga, tetapi jangan-jangan waktu untuk keluarga justru tidak pernah kita berikan,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menegaskan bahwa peran ayah dalam keluarga tidak berhenti pada fungsi sebagai pencari nafkah.

Menurutnya, kehadiran ayah dalam kehidupan sehari-hari anak merupakan kunci penting dalam membangun ketahanan keluarga sekaligus menjaga kesehatan mental generasi muda.

“Seorang suami pada hakikatnya telah diposisikan sebagai pemimpin dalam keluarga. Karena itu, tanggung jawab utama seorang ayah adalah melindungi anggota keluarga yang dipimpinnya,” ujarnya.

Hasto menilai perlindungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi ataupun keamanan fisik, tetapi juga mencakup kehadiran emosional dan kemampuan memahami dunia anak yang terus berubah mengikuti perkembangan zaman.

Karena itu, para ayah dituntut untuk terus belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan anak-anak mereka, memahami kebiasaan, hobi, hingga cara mereka berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

“Orang tua, khususnya ayah, perlu belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan anak-anak mereka, termasuk memahami kebiasaan, hobi, hingga cara mereka berinteraksi dengan lingkungan sekitar,” pungkasnya. (Palupi Sastro)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *